Monday, 27 March 2017

PERBANYAKAN MIKRO/MICRO PROPAGATION

Bahan bacaan :


PERBANYAKAN MIKRO/MICRO PROPAGATION

Di alam reproduksi asexual terjadi baik melalui cara ::
1.    vegetative : regenerasi  tanaman baru melalui bagian vegetatif
2.    apomixis : perkembangan biji tanpa meiosis  dan fertilisasi

Reproduksi vegetatif menghasilkan tanaman secara genetik identik dan digunakan secara luas untuk perbanyakan dan multiplikasi tanaman hortikultur yang penting.Penggandaan  tanaman yang genetik identik melalui cara asexual disebut clonal propagation ,dan kumpulan individu secara genetik serupa diperoleh dari satu  individu melalui perbanyakan asexual disebut clone.  Istilah Clone pertama kali digunakan oleh Webber ( 1903) pada tanaman yang di budi dayakan secara vegetatif.
Perbanyakan clone secara in vitro disebut micropropagation (perbanyakan mikro ).

In vitro  secara harfiah adalah “dalam kaca “secara umum diaplikasikan kepada mempelajari material hidup dilaksanakan diluar organisma hidup dimana material tersebut diperoleh, contoh kultur jaringan
  
Micropropagation memiliki beberapa  keuntungan dibandingkan dengan perbanyakan secara konvensional  seperti :

1.    Tanaman dapat diproduksi dalam jumlah besar dari satu explant dalam waktu yang singkat dan ruang yang terbatas.
2.    In vitro tanaman kultur bebas penyakit
3.    micropropagation dapat dilakukan sepanjang tahun tidak tergantung pada perubahan musim.

Proses micropropagation melalui 4 tahap :

1.    Pemilihan explant yang sesuai, sterilisasinya dan transfer ke media hara.
2.    Proliferasi tunas pada medium penggandaan
3.    Transfer tunas ke medium tempat tumbuhnya perakaran
4.    Tranplantasi tanaman  ke tanah

PENGGANDAAN TUNAS

Penggandaan in vitro  tunas melibatkan tiga cara pendekatan :

1.    penggandaan melalui kultur kalus
2.    penggandaan tunas tambahan
3.    penggandaan melalui tunas apical dan tunas samping

I. Penggandaan melalui kultur kalus :

Sejumlah bear plantlets dapat diperoleh dari kallus, baik melalui pembentukan tunas-akar atau somatic embryogenesis.Produksi yang banyak sekali dari kalus diikuti oleh regenerasi tunas merupakan metode ideal perbanyakan skala besar tanaman yang diperlukan namun ada dua kekurangan :
1.    adanya sub-culture yang berulang-ulang kapasitas jumlah besar kalus untuk menghasilkan tunas dikurangi bahkan bisa tidak terjadi.
2.     tingkat aneuploidy, polyploidy dan perkembangan sel yang genetik menyimpang meningkat cepat menghasilkan tanaman yang berbeda dari induknya.

Oleh sebab itu penggandaan tunas melalui kaus kurang dipilih.

II. Penggandaan tunas adventif (adventitious shoots = tunas yang tumbuh pada tempat yang tidak biasa ).

adventitious shoots : adalah batang  atau struktur daun yang tumbuh alami pada tanaman atau tempat selain dari daerah axil daun yang normal.

Struktur  ini termasuk batang,akar umbi  , ubi-ubian, corms dan rhizome/akar. Pada kebanyakan tanaman hortikultura,perbanyakan vegetatif melalui  tunas adventif  merupakan cara komersial .contoh, di alam tunas yang tumbuh pada daun begonia dan beberapa tanaman hias.

Pada kultur pembentukan  tunas adventif dapat juga  dipacu menggunakan kombinasi yang tepat zat tumbuh pada media. Tunas adventif juga dapat di pacu pada daun dan potongan batang, bahkan pada species yang secara normal tidak diperbanyak  melalui vegetatif. e.g.Brassica.

Tunas adventif dapat dibentuk dari potongan tunas apex, Pada anggur dari potongan ujung tunas dapat diperoleh lebih dari 8000 tanaman dalam waktu 3-4 bulan. Tanaman Pinguicula biasanya diperbanyak dengan potongan daun, dengan cara metoda konvensional dihasilkan  hanya satu tanaman dari setiap daun, namun melalui kultur didapatkan 15 kali lebih banyak.
African violet secara konvensional diperoleh satu atau lebih tunas dari potongan daun, Kultur in vitro petiole menghasilkan sampai 20.000 planlets dari tiap petiole.
Perkembangan adventitious shoot langsung dari potongan organ disukai untuk perbanyakan clonal dibandingkan dari metoda pembentukan kallus karena pada yang pertama individu diploid dihasilkan sedang yang kedua seringkali dihasilkan tanaman yang selnya abnormal.

3.    Penggandaan tunas apical dan axillary.
     
     Tunas apical adalah yang terdapat pada bagian ujung tunas yang tumbuh sedangkan axillary shoot adalah yang tumbuh pada posisi normal  tanaman pada bagian axil setiap daun.
Setiap mata tunas berpotensi untuk tumbuh menjadi tunas. Apical dominant memegang peranan penting dalam pertumbuhan axillary bud dan di atur oleh campuran zat tumbuh.
Untuk memulai kultur, shoot tip ditempatkan pada media yang mengandung sitokinin konsentrasi rendah(0.05- 5 mg/l BAP )dan auxin (0,01-0,1 mg/l IBA), level sitokinin secara bertahap ditingkatkan pada setiap subculture sampai tingkat yang diinginkan dimana proliferasi diperoleh.

PERAKARAN  IN VITRO  TUNAS

Adventif dan tunas axillary tumbuh  pada kultur  tidak memiliki akar. Sebab itu mereka harus di pindahkan ke media perangsang pembentukan  akar, yang dalam komposisi zat tumbuhnya berbeda dari media penggandaan tunas. Bagian basal potongan tunas diperlakukan dengan zat perangsang perakaran dan ditanam dalam pot.
Inisiasi perakaran seringkali merupakan tahapan yang sangat berat pada perbanyakan in vitro karena tunas harus diperlakukan secara individu bukan secara kelompok.
Semua sitokinin menghambat perakaran, penggunaan kinetin menggantikan BAP pada tahap akhir penggandaan meningkatkan perakaran. Perakaran juga ditingkat dengan menurunkan konsentrasi garam makro sampai setengah aau kurang,dan konsentrasi sucrose dari 2-3% menjadi 0,5-1 %.

TRANSPLANTASI

 Tanaman seara hati-hati di ambil dari media dan di pindahkan ke tanah.Kelembaban tinggi (90 -100% harus dipelihara selama 10 – 15 hari.Hal ini dapat dilakukan dengan menutup pot tanaman dengan polythene yang di buat lubang untuk aerasi.
Waktu yang baik untuk transplanting adalah ketika akar mulai muncul dan daun mulai tumbuh serta sudah dapat melaksanakan fotosintesa.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERBANYAKAN MIKRO (MICRO PROPAGATION ).

1.    Tanaman Donor dan explant: kondisi fisiologi tanaman donor dan explant sangat mempengaruhi morfogenesis dan tingkat proliferasi/pelipat gandaandalam sistem perbanyakan mikro. Explant yang mengandung sejumlah besar jaringan meristem lebih sesuai.Exlant diperoleh dari bagian muda tanaman memberikan hasil yang lebih baik daripada bagian yang tua.Sifat explant dalam kultur ditentukan oleh tahap pertumbuhan tanaman induk dan musim waktu mengambil explant.

Sebagian besar tanaman siap di kulturkan ketika menggunakan explant dari tanaman yang aktif tumbuh, namun yang lain mungkin menghasilkan tunas hanya dari tanaman yang sedang dorman. Umbi/bulb Lilium speciosum menumbuhkan ”bulbils”nya ketika diambil dari tanaman selama spring dan autum dan tidak tumbuh ketika diambil pada musim summer dan winter.

2.     Media : Secara keseluruhan perbanyakan mikro  dari explant langsung dikontrol oleh komposisi media.konsentrasi tinggi sitokinin dapat mempercepat pembentukan tunas namun pertumbuhan individu masing-masing tunas dapat di halangi/tahan.
Pada tanaman berdaun tropik konsentrasi fosfat yang ada pada media mempengaruhi ukuran dan jumlah tunas yang dihasilkan pada kultur ujung batang/tip culture.Pada tanaman wortel , tingkat potassium pada media mempengaruhi jumlah embryo somatik. Arang sekitar 2% seringkali ditambahkan pada media hara, fungsinya menyerap campuran aromatik. Arang mencegah ”pencoklatan” pada kultur jaringan dan merangsang embryogenesis dan pembentukan akar.
  
3.    Cahaya : cahaya memegang peranan penting untuk mendorong morfogenesis pada kultur jaringan. Intensitas cahaya yang sesuai bagi perbanyakan mikro adalah 1000 lux Intensitas cahaya rendah menghasilkan tunas yang hijau dan tinggi,sedangkan intensitas cahaya tinggi mendorong perakaran yang lebih baik.
Lebih banyak tunas adventif dihasilkan pada kultur jaringan Allium cepa dalam 16 jam/hari daripada 8 jam/hari.Pada kultur tunas Solanum tuberosum pembentukan node lebih cepat terjadi pada penyinaran yang terus menerus, dan lebih sedikit node dan tunas yang lebih lemah terbentuk pada penyinaran 8 jam/hari.
   
4.    Temperatur:Kultur jaringan biasanya ditempatkan  pada 24o C . Namun beberapa species tanaman memerlukan temperatur yang bervariasi untuk inisiasi akar dan tunas. Pada Asparagus kultur ujung tunas tumbuh lebih baik pada 27 C,sedangkan segment petiole persilangan Begonia dan Cheimanta menghasilkan jumlah tunas yang banyak pada 18o C. Species tropik memerlukan temperatur yang lebih tinggi, untuk tanaman kurma /date memerlukan 27o C dan Monsterra deliciosa  30o C

PENGGUNAAN PERBANYAKAN  MIKRO

1.    Perbanyakan in vitro merupakan alat yang atraktif dan potensial untuk cloning yang cepat tanaman yang diinginkan. Cultivar baru yang terpilih dapat di perbanyak dengan cepat sampai beberapa ribu dalam beberapa bulan tidak menunggu tahunan. Lagi pula pada kultur jaringan perbanyakan tanaman dapat berlangsung sepanjang tahun tanpa tergantung pada musim.
2.    Beberapa heterozygous tanaman hortikultura seperti Gerberra dan Anthurium yang biasanya diperbanyak hanya dengan biji sekarang dapat di klone secara cepat dari tanaman pilihan untuk vigour dan warna.
3.    Sebagian besar perbanyakan vegetatif tanaman rentan terhadap infeksi virus. Keuntungan penggunaan perbanyakan mikro terletak pada hasil yang cepat bahan yang bebas penyakit. Teknik ”  meristem tip culture ” di kombinasi dengan perlakuan pemanasan tanaman induk ,sekarang dikembangkan untuk in vitro  menghilangkan virus dari bahan stock yang terinfeksi.
4.    Pada sejumlah tanaman  produksi biji hibrid sangat mahal, Biaya produksi biji hibrid tersebut dapat dikurangi melalui tanaman induk yang diinginkan. Broccoli, cabbage dan cauliflower contoh tanaman yang sekarang diperbanyak secara in vitro dan tanaman induk yang di kehendaki tersebut dapat dilipat gandakan untuk produksi langsung biji hibrid
5.    Perbanyakan  mikro memiliki nilai yang besar sebagai sistem yang potensial penyimpanan germplasm
6.    Kultur jaringan dapat digunakan untuk mengurangi keperluan ruang yang bertambah pada kebun bibir komersial untuk tempat pemeliharaan tanaman stock.
   


    







Tuesday, 7 March 2017

Contoh SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) “Keganasan pada organ reproduksi wanita”

1.        Topik :
Keganasan pada organ reproduksi wanita
2.        Sub Topik :
Kista Ovarium
3.        Sasaran :
Wanita Usia Subur (25 – 35) di wilayah Pedesaan
4.        Tempat :
Balai Desa
5.        Hari/Tanggal :
Kamis / 8 Oktober 2014
6.        Waktu :
07.50-08.30
7.        Tujuan
a.    Tujuan Umum : Memberikan informasi mengenai kista ovarium
b.    Tujuan Khusus :
·      Peserta dapat memahami pengertian kista ovarium
·      Peserta dapat mengetahui tentang angka kejadian kista ovarium di Indonesia
·      Peserta dapat memahami tentang tanda gejala kista ovarium
·      Peserta dapat memahami proses terjadinya kista ovarium
·      Peserta dapat memahami faktor resiko kista ovarium
·      Peserta dapat memahami cara pencegahan atau deteki dini kista ovarium
·      Peserta dapat memahami penanganan kista ovarium
8.        Materi (Terlampir)
a.    Pengertian kista ovarium
b.    Angka kejadian kista ovarium di Indonesia
c.    Tanda gejala kista ovarium
d.   Proses terjadinya kista ovarium
e.    Faktor resiko kista ovarium
f.     Pencegahan atau deteksi dini kista ovarium
g.    Penanganan kista ovarium
9.        Metode
a.    Ceramah
b.    Diskusi
10.    Media :
a.    Leaflet
b.    Poster
c.    Materi dalam Power Point
11.    Metode Evaluasi
a.     Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian kista ovarium
b.    Peserta dapat mengetahui angak kejadian kista ovarium
c.     Peserta dapat menyebutkan tentang tanda gejala kista ovarium
d.    Peserta dapat menjelaskan tentang proses terjadinya kista ovarium
e.     Peserta dapat menyebutkan tentang faktor resiko kista ovarium
h.     Peserta dapat menyebutkan cara pencegahan atau deteksi dini kista ovarium
i.      Peserta dapat mengetahui Penanganan kista ovarium
12.    Kegiatan Penyuluhan
No.
Waktu
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
1.
5  menit
Pembukaan :
1.     Memberikan salam
2.     Memperkenalkan diri
3.     Menjelaskan tujuan penyuluhan
4.     Menyebutkan materi yang akan diberikan
5.     Membagikan leaflet

1.     Menjawab salam
2.     Memperhatikan
3.     Memperhatikan

4.     Memperhatikan

5.     Menerima dan membaca
2.
25 menit
Pelaksanaan :
1.      Pengertian kista ovarium
2.      Angka kejadian kista ovarium di Indonesia
3.      Tanda gejala kista ovarium
4.      Proses terjadinya kista ovarium
5.      Faktor resiko kista ovarium
6.      Pencegahan atau skrining kista ovarium
7.      Penanganan kista ovarium
8.      Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan menjawab pertanyaan peserta

1.     Memperhatikan

2.     Memperhatikan

3.     Memperhatikan

4.     Memperhatikan


5.     Memperhatikan

6.     Memperhatikan

7.     Memperhatikan


8.     Bertanya dan mendengarkan jawaban
3.
10 menit
Evaluasi :
1.    Meminta peserta menjelaskan tentang pengertian kista ovarium
2.    Meminta peserta menyebutkan tentang tanda gejala kista ovarium
3.    Meminta peserta  menjelaskan proses terjadinya kista ovarium
4.    Meminta peserta menyebutkan faktor resiko kista ovarium
5.    Meminta peserta menyebutkan  cara pencegahan atau deteksi dini kista ovarium
6.    Meminta peserta menyebutkan penanganan kista ovarium

1.    Menjelaskan tentang pengertian kista ovarium

2.    Menyebutkan tentang tanda gejala kista ovarium

3.    Menjelaskan tentang proses terjadinya kista ovarium

4.    Menyebutkan tentang faktor resiko kista ovarium

5.    Menyebutkan tentang cara pencegahan atau deteksi dini

6.    Menyebutkan tentang penanganan kista ovarium

4.
2 menit
Penutup :
1.    Mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan
2.    Mengucapkan salam penutup

1.    Memperhatikan

2.    Membalas salam















Lampiran
MATERI

A.      Pengertian Kista Ovarium
Kista merupakan penyakit yang halus, rumit dan unik, karena keberadaannya mirip dengan kehamilan, di mana semua wanita mempunyai resiko akan hadirnya penyakit ini. Setiap wanita mempunyai 2 indung telur kanan dan kiri yang ukurannya normalnya sebesar biji kenari. Setiap indung telur tersebut berisi ribuan telur yang masih muda atau folikel yang setiap bulannya akan membesar dan satu diantaranya membesar sangat cepat sehingga menjadi telur yang matang. Pada saat masa subur telur yang matang ini keluar dari indung telur dan bergerak kerahim melalui saluran telur. Apabila sel telur yang matang ini dibuahi, Folikel akan mengecil dan menghilang dalam waktu 2-3 minggu dan akan terus berulang sesuai siklus haid pada seorang wanita. Namun, jika terjadi gangguan pada proses siklus ini, maka kista pun akan terjadi (Chyntia, 2010).
B.       Angak Kejadian Kista Ovarium
Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia angka kejadian kista ovarium di Indonesia mencapai  37,2%, dan paling sering terdapat pada wanita berusia antara 20-50 tahun, dan jarang sekali pada masa pubertas. (Hanifa W, 2007). Sedangkan menurut data dari Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya menunjukkan bahwa angka kejadian kista ovarium pada bulan Januari -  Maret 2011, sebanyak  (15,1%) dengan kelompok umur 17- 45 tahun. Dan pada bulan April -  Juni 2011, penderita kista ovarium sebanyak 32 orang (39,5%) dari jumlah pasien dengan penyakit kandungan sebanyak 81 orang dengan kelompok umur 17- 45 tahun sebanyak 11 orang, usia > 45 tahun sebanyak 21orang. Berdasarkan informasi yang telah diuraikan diatas dapat diketahui bahwa angka kejadian kista ovarium di rumah sakit surabaya internasional cenderung meningkat sebesar 24,4%.
C.      Tanda Gejala Kista Ovarium
-        Perut terasa penuh, berat, dan kembung
-        Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
-        Haid tidak teratur
-        Nyeri panggul yang menetap atau kambuh yang dapat menyebar kepunggung bawah dan paha
-        Nyeri senggama
-        Mual dan ingin muntah
-        Pengerasan payudara mirip pada saat hamil
-        Nyeri tekan perut bagian bawah yang akut. (Moore, 2001)       
D.      Proses Terjadinya Kista Ovarium
Seorang wanita yang sehat biasanya memiliki sepasang ovarium di kanan dan kiri rahim. Setiap ovarium menghasilkan satu telur setiap bulannya dan telur itu terbungkus dalam kantong yang bernama folikel. Setiap bulan folikel  tersebut membesar dan satu di antaranya membesar sangat cepat dan menjadi telur yang matang. Pada peristiwa pembuahan, telur yang matang ini keluar dari indung telur dan bergerak ke rahim melalui saluran telur. Apabila sel telur yang matang ini tidak dibuahi, folikel akan mengecil dan menghilang dalam waktu 2-3 minggu dan akan terus berulang sesuai siklus haid pada seorang wanita. Jikalau ada gangguan proses siklus ini maka akan terjadi apa yang disebutkista.
Ketika folikel tidak berhasil pecah untuk mengeluarkan telur di dalamnya, cairan di dalamnya akan membentuk kista kecil yang tidak lebih besar dari 4 cm. Kista varium ini disebut kista fungsional yang lumrah terbentuk pada salah satu ovarium wanita. Setelah beberapa waktu, kista ini akan menyusut dan hilang dengan sendirinya. Sebenarnya kista dapat hilang dengan sendirinya, namun pada beberapa kasus justru menimbulkan masalah kesehatan seperti haid tidak lancar, pendarahan, kista pecah, tidak bisa hamil, batang ovarium terlilit, dan juga kanker endometrium.
E.       Faktor Resiko Kista Ovarium
1.      Riwayat kista ovarium sebelumnya
2.      Siklus menstruasi tidak teratur
3.      Haid pertama lebih awal, menopause lebih lambat
4.      Tidak pernah hamil atau sulit hamil
5.      Hipotiroidisme atau ketidakseimbangan hormon
6.      Wanita dengan keluarga pernah kanker ovarium
7.      Wanita yang pernah menderita kanker payudara atau usus besar
F.       Pencegahan atau Deteksi Dini Kista Ovarium
Tidak ada upaya pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit ini. Upaya yang bisa dilakukan adalah untuk mengetahui secara dini penyakit ini sehingga pengobatan yang dilakukan memberi hasil yang baik dengan komplikasi yang minimal. Upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan secara berkala yang meliputi:
1.      pemeriksaan klinis ginekologik untuk mendeteksi adanya kista atau pembesaran ovarium lainnya
2.      pemeriksaan Ultrasonografi (USG) bila perlu dengan alat Doppler untuk mendeteksi aliran darah
3.       pemeriksaan petanda tumor (tumor marker)
4.       pemeriksaan CT-Scan/MRI bila dianggap perlu (Chyntia, 2010),.
G.      Penanganan Kista Ovarium
Menurut Prawirohardjo (2002), menyatakan bahwa dapat dipakai prinsip bahwa kista ovarium ganas  memerlukan operasi dan kista jinak tidak. Jika menghadapi kista yang  tidak memberi gejala atau keluhan pada penderita dan yang besar kistanya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter kurang dari 5 cm, kemungkinan besar kista tersebut adalah kista jinak sehingga tidak membahayakan. Tidak jarang kista-kista tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga pada pemeriksaan ulangan setelah beberapa minggu dapat ditemukan ovarium yang kira-kira besarnya normal.
 Oleh sebab itu, dalam hal ini perlu menunggu selama 2 sampai 3 bulan, sementara mengadakan pemeriksaan ginekologik berulang. Jika selama waktu pengamatan dilihat peningkatan dalam pertumbuhan kista tersebut, maka dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar kista itu bersifat ganas, dan dapat dipertimbangkan satu pengobatan operatif. Tindakan operasi kista ovarium ganas ialah pengangkatan kista dengan mengadakan sayatan pada bagian ovarium yang mengandung kista. Akan tetapi jika kistanya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai dengan pengangkatan tuba. Pada saat operasi kedua ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah ditemukan pada satu atau pada dua ovarium. Pada operasi kista ovarium yang diangkat harus segera dibuka, untuk mengetahui apakan ada keganasan atau tidak. Jika keadaan  meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) untuk mendapatkan kepastian apkah kista ganas atau tidak. Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat adalah histerktomi dan pengangkatan kedua tuba. Akan tetapi, wanita muda yang masih ingin mendapat keturunan dan tingkat keganasan kista yang rendah (misalnya kista sel granulosa), dapat dilakukan operasi dengan pengambilan kistanya saja.

Daftar Pustaka
Chyntia, E. 2010. Pahami Kista Anda Akan Terbebaskan. Yogyakarta: Maximus
Moore, J.G (2001). Essensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Hipokrates.
Prawirohardjo, S. 2002. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Hanifa W. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.